Blog Archives

TAULADAN : TERIMA KASIH USTADZ

Masih teringat dalam ingatan, bangunan putih di samping masjid bertuliskan ‘Madrasah roudlotul Muttaqin’. Dilihat dari kondisi dan modelnya semua orang pasti tahu bahwa bangunan tersebut sudah sangat tua. Terbayang wajah imut saat itu, bapak menuntunku ke dalam. “ustad ajarin anak saya ngaji ya..” pinta bapak kepada pengajar berharap anaknya bisa ikut mengaji.

gambar : republika.co.id

Kelas pun dimulai. Masing-masing dari kami (saya dan teman-teman sekelas) mendapatkan buku kecil secara gratis. Iqro satu, buku pertama yang saya pegang saat itu.

Kelas begitu sangat ramai, dengan hanya satu ruangan tapi para pengajar bisa membuat 5 kelas tanpa sekat di dalamnya. Setiap kelas terdiri kurang lebih 15 anak. Bisa dibayangkan 75 anak berumur 3-15 tahun berkumpul di dalam ruangan yang sama. Saking penuhnya ruangan madrasah, kelas 6 dan kelas 7 terpaksa harus menempati teras masjid (yang besar=yang mengalah sama adik-adiknya).

Tahun berganti tahun, masing-masing dari kami naik jenjang. Berurutan dari kelas 1 naik ke kelas 2 kemudian kelas 3 dan seterusnya. Beberapa tahun belajar bersama di madrasah, mengenalkan kami pada berbagai macam sosok pengajar yang pernah mengajar kami di kelas. (more…)

Advertisements

PRAISE PUBLICY, CRITISM PRIVATELY

Ada cerita menarik dari sebuah scene film berjudul See You After School. Sebenarnya film ini bercerita mengenai anak sekolah  yang sering dibuli di lingkungan dimana ia belajar, kita sebut aja si cupu. Namun, pada akhirnya ia menjadi seseorang yang dikagumi oleh teman-temannya karena mampu menemukan jati dirinya meski sempat mengorbankan hubungan persahabatan dengan teman dekatnya.

Suatu saat ada adegan dimana terjadi pencurian di kelasnya saat pelajaran olah raga berlangsung. Wali kelasnya pun sangat geram karena kejadian tidak terpuji ini sudah terjadi berulang kali. Agar dianggap sebagai orang yang pemberani dan ‘bandel’, si ‘cupu’ beraksi dengan berpura-pura menjadi pelaku dari pencurian yang sering terjadi. Sebagai konsekuensinya maka ia akan dihukum dan mendapat perhatian dari teman-temannya.

Tapi bukan itu yang ingin saya bagi kepada teman-teman sekalian.

Guru yang sedang marah memasuki ruang kelas dan langsung menyuruh seluruh anak didiknya untuk memejamkan matanya dan menunduk kepalanya;

Saya minta semuanya memejamkan mata dan menundukkan kepala, Sekarang! dan jangan berani-berani untuk membuka mata” tegas sang guru. (more…)

13 Macam Penyakit Guru

Utak-utik skripsi..nyari referensi eh malah ada artikel menarik di ideguru.wordpress.com. Artikelnya membicarakan tentang penyakit guru, saya termasuk yang mana yach??…he..he…yang penting lagi, artikel ini mengingatkan kita  untuk sadar kembali kepada tujuan pendidikan yaitu menjadikan siswa menjadi manusia utuh;  sehat jasmani, ruhani, berilmu dan berakhlaq mulia. monggo…..

——————————————————————————————————————————

Oleh Ahmad Baedowi
Direktur Pendidikan Yayasan Sukma, Jakarta

Short message service (SMS) jelas merupakan sarana efektif bagi masyarakat untuk berkomunikasi. Segala jenis informasi bisa disebar hanya dalam hitungan menit, bahkan detik. Selain sebagai sumber berita, SMS juga dapat menjadi sumber belajar dan bahkan dari perspektif negatif, layanan ini juga dapat memberikan pengaruh dan citra buruk bagi sebuah tatanan, baik secara individu maupun kelompok. Beberapa berita atau isu soal gempa di Jakarta, ancaman terorisme, hingga bocornya soal-soal ujian nasional adalah di antara beberapa contoh betapa efektifnya penggunaan SMS.

Di Kota Bekasi (mungkin juga di kota-kota lainnya di Indonesia), khususnya dalam 2 minggu terakhir ini, merebak SMS dari satu guru ke guru lainnya tentang adanya “penyakit” di kalangan para pendekar pendidikan. Bunyi SMS ini memang terasa lucu dan sedikit mengada-ada, tapi dari segi substansi tampaknya kita tak bisa menganggap remeh isu penyakit guru ini. Gejala penyakit ini bahkan menjadi bahan diskusi yang cukup serius di lingkungan para guru, sambil di antaranya mereka mencoba mencocokkan jenis penyakit mana yang sudah ada dalam diri mereka masing-masing.

Inilah bunyi 13 penyakit guru versi SMS itu, yang jika penyakit itu diklasifikasi menjadi tiga jenis keterampilan (skill), yaitu kemampuan personal (kepribadian), metodologis, dan teknis. Pada aspek kemampuan kepribadian guru, penyakit yang disinyalir ada meliputi THT (tukang hitung transport), hipertensi (hiruk persoalkan tentang sertifikasi), kudis (kurang disiplin), dan asma (asal masuk). Banyak sekali dijumpai guru yang selalu berhitung soal pembagian transport dari dana BOS, kecurangan dalam hal proses sertififikasi, kurang disiplin dan masuk sembarangan hanya sekadar memenuhi absensi. Gejala ini sangat umum terjadi di lingkungan guru dan sekolah kita. Read the rest of this entry

%d bloggers like this: