PRAISE PUBLICY, CRITISM PRIVATELY

Ada cerita menarik dari sebuah scene film berjudul See You After School. Sebenarnya film ini bercerita mengenai anak sekolah  yang sering dibuli di lingkungan dimana ia belajar, kita sebut aja si cupu. Namun, pada akhirnya ia menjadi seseorang yang dikagumi oleh teman-temannya karena mampu menemukan jati dirinya meski sempat mengorbankan hubungan persahabatan dengan teman dekatnya.

Suatu saat ada adegan dimana terjadi pencurian di kelasnya saat pelajaran olah raga berlangsung. Wali kelasnya pun sangat geram karena kejadian tidak terpuji ini sudah terjadi berulang kali. Agar dianggap sebagai orang yang pemberani dan ‘bandel’, si ‘cupu’ beraksi dengan berpura-pura menjadi pelaku dari pencurian yang sering terjadi. Sebagai konsekuensinya maka ia akan dihukum dan mendapat perhatian dari teman-temannya.

Tapi bukan itu yang ingin saya bagi kepada teman-teman sekalian.

Guru yang sedang marah memasuki ruang kelas dan langsung menyuruh seluruh anak didiknya untuk memejamkan matanya dan menunduk kepalanya;

Saya minta semuanya memejamkan mata dan menundukkan kepala, Sekarang! dan jangan berani-berani untuk membuka mata” tegas sang guru.

 Dengan mata yang berkaca-kaca sang wali kelas pun berbicara kepadanya anak didiknya ;

“sebuah hal buruk baru saja terjadi, dan saya sangat kecewa karena hal buruk itu terjadi di dalam kelas ini”.

 Ia pun bertanya dengan kerasnya; “siapa yang berani mencuri dompet temannya!!!, siapa??!!, bagaimana mungkin bisa seseorang tega mencuri dompet teman sendiri!”.

kemudian sang guru meminta anak didiknya untuk mengakui kesalahan“silahkan angkat tangan kalian dengan perlahan…jangan khawatir, siapapun pencurinya saya akan merahasikannya”

Akan tetapi belum ada satupun dari para siswa yang berani untuk mengankat tangannya dan mengakui perbuatan mereka.

“Saya paham…tidak ada seseorang yang sempurna di dunia ini, mereka pasti pernah berbuat kesalahan. Tidak apa-apa tak perlu malu. Tetapi tahukah kalian? hal yang paling memalukan adalah tidak adanya keberanian untuk memperbaiki kesalahan” lanjut sang guru.

belum ada satupun murid yang berani mengangat tangannya.

“Kalian semua mau menjadi lebih hina dari binatang!!?? hah…”

Dengan sedikit bangga si “cupu” pun mengangkat tangan agar mendapat hukuman. Ia pun membuka mata dan menoleh disekelilingnya sambil tersenyum kecil. Tetapi dengan kagetnya ternyata sebagian besar teman dikelasnya pernah mencuri.

Tetapi apa yang disampaikan sang guru kemudian, menurut saya sangat inspiratif.

Sang guru pun berkata sambil menangis ;”maafkan saya, maafkan guru yang bodoh ini karena meragukan kalian semua”

“Bagaimana bisa aku meragukan kalian, tidak ada satu pencuri pun di kelas ini. Kalaupun ada, itu sangat tidak bisa diterima”

“Kalian semua anak yang hebat, saya menyayangi kalian semua” Sang guru pun menangis dan meninggalkan kelas.

Dari kejadian ini saya mengambil banyak pelajaran. Bagaimana guru bisa menegur anak didiknya secara tertutup, memberikan nasihat dan memuji dengan terang-terangan.

Advertisements

Posted on July 5, 2012, in artikel pendidikan and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: